Topik trending
#
Bonk Eco continues to show strength amid $USELESS rally
#
Pump.fun to raise $1B token sale, traders speculating on airdrop
#
Boop.Fun leading the way with a new launchpad on Solana.
Para penulis ini ingin tahu apakah ibu menghadapi diskriminasi dalam perekrutan, bahkan ketika mereka sama-sama memenuhi syarat sebagai pelamar lain.
Jadi mereka menjalankan dua percobaan.
Pertama, percobaan laboratorium: peserta mengevaluasi pasangan pelamar kerja identik yang hanya berbeda dalam status orang tua.
Kemudian, studi audit dunia nyata: mereka mengirim 1.200+ lamaran kerja ke pemberi kerja nyata untuk pekerjaan tingkat pemula dan menengah.
Mereka mengacak apakah pelamar:
– Ibu (berdasarkan melayani di PTA)
– Wanita tanpa anak (mereka terdaftar sebagai sukarelawan dalam peran khusus non-orang tua)
– Ayah (berdasarkan melayani di PTA)
– Pria tanpa anak (mereka terdaftar sebagai sukarelawan dalam peran khusus non-orang tua)
Semua pelamar memiliki kualifikasi yang sama.
Kemudian mereka melacak evaluasi, rekomendasi gaji, dan panggilan balik pemberi kerja.
Mereka menemukan bahwa:
Ibu dinilai kurang kompeten dan kurang berkomitmen daripada wanita tanpa anak yang memiliki kualifikasi yang sama.
Ibu dipegang pada standar yang lebih ketat, ditawari gaji yang lebih rendah, dan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk dipekerjakan atau dipromosikan.
Dalam percobaan lapangan, majikan nyata memanggil kembali wanita tanpa anak lebih dari dua kali tingkat ibu.
Ayah, sebaliknya, tidak menghadapi hukuman dan kadang-kadang menerima bonus.
Kesimpulan:
"Hukuman keibuan" adalah nyata, kausal, dan didorong oleh diskriminasi, bukan perbedaan kemampuan....




Teratas
Peringkat
Favorit
